Sekedar


.

Kali ini bolehkah saya berbagi mengenai apa yang ada di pikiran saya selama-lama ini. Bukan soal kebenaran dan kesalahan, bukan pula soal kebaikan dan kejahatan tapi soal biasa. Semakin biasa hingga tak jadi soal. Bagaimana kita merefleksikan soal kehidupan? Soal kegalauan? Soal jati diri dan kemandirian? Oh My Lord! Saya Mahasiswi Semeseter 4! Demi wanita-wanita cantik nan anggun saya belum menemukan sesuatu yang klik. Tulisan-tulisan, lembaran-lembaran, tugas-tugas, perjalanan, dan cerita.

Mengenai cerita, tak pernahkah kalian merasa heran. Keheranan bukan menjadi soal jika kau bisa menjawabnya. Kali ini saya hanya ingin menulis, dan sekedar menulis. Apa saja yang kebetulan lewat di otak dan kebetulan mampir atau saya suruh mampir akan saya ketik saja. Muter-muter tak masalah toh apa sih. Hanya saja saya kurang mengerti bagaimana sebuah konsep bisa menghasilkan hasil yang menawan dan baik untuk diketahui. Oh demi telur dadar dan terancam kesukaan!

Dunia kembali kebolak-balik. Baru saja jika kau tahu Jepang negara dengan sejuta kebudayaannya yang menawan tersapu Tsunami. Adakah baiknya kita berdoa, apa yang bisa kita lakukan memang selain itu. Dan semoga Doraemon bisa membawa hal positif atas peristiwa ini. Bumiku, bumimu. Satu hal yang pasti kita tak pernah mengerti bagaimana mensyukuri semua. Memahami semua, mendaki semua jalan kehidupan ini. Mungkin hanya bagi saya saja.

Tiap paragraf yang tertulis mengapakah bisa memiliki makna yang berbeda? Isi yang berbeda pada tiap ketikannya. Karena kita mengetik, kita bukan sedang memainkan tuts piano yang menghasilkan bunyi. Jikalah kita menulis apakah kita akan menghasilakan bunyi-bunyian? Saya rasa, bunyi-bunyian dari sebuah tulisan adalah yang namanya suara kita. Suara hati, pikiran, dan apresiasi atas segala dan lebih baiknya kita simak refleksinya, yang tersampaikan melalui media penulisan.

Tentang cerita, bagaimanakah mungkin setiap manusia punya cara yang beda dalam menyampaikannya. Ya, karena itulah manusia. Yang dalam kata kita, “Bhinneka Tunggal Ika”. Lalu, kita Indonesia…


Tak Bertepi

Sajakku bukan sajak bermajas rapi indah dan sesuai aturan

Sajakku kusebut sajak sebagai sebuah bagian kontemporer

Sajakku tak bergelimang air mata saat ini

Sajakku bukan tak memiliki makna

Sajakku hanya bertirai


Selalulah kita senandungkan suara kita, lewat apa saja. Tak ada yang sia-sia. Kesia-siaanlah yang beranggapan.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Posting Komentar